Cinta adalah kegilaan sementara. Cinta meledak seperti gempa bumi kemudian mereda. Dan saat cinta mereda, Anda harus membuat sebuah keputusan. Anda harus bekerja keras entah apakah akar-akar anda telah terjalin sangat erat hingga tidak dapat dibayangkan Anda dapat berpisah. Karena inilah arti cinta. Cinta bukan menyesakkan, cinta bukan kegembiraan, cinta bukan pengumuman janji-janji asmara abadi. Hal-hal itu hanyalah “jatuh cinta” yang siapapun dapat meyakinkan diri kita bahwa memang benar.
Cinta itu sendiri adalah apa yang tersisa saat jatuh cinta telah pergi, dan ini adalah sebuah seni dan sebuah keberuntungan. Ibumu dan Aku memilikinya, kami memiliki akar yang tumbuh di dalam tanah yang lain, dan saat bunga-bunga indah telah berguguran dari ranting-ranting kami, kami menemukan bahwa kami adalah satu pohon bukan dua pohon.
Love is a temporary madness. It erupts like an earthquake and then subsides. And when it subsides you have to make a decision. You have to work out whether your roots have become so entwined together that it is inconceivable that you should ever part. Because this is what love is. Love is not breathlessness, it is not excitement, it is not the promulgation of promises of eternal passion. That is just being “in love” which any of us can convince ourselves we are.
Love itself is what is left over when being in love has burned away, and this is both an art and a fortunate accident. Your mother and I had it, we had roots that grew towards each other underground, and when all the pretty blossom had fallen from our branches we found that we were one tree and not two
-Captain Corelli’s Mandolin6. “Love is the Beauty of the Soul.”
St. Augustine
kata mutiara cinta, St. Augustine